Jeneponto,Newsone.id – Taman Kampus Institut Turatea Indonesia (INTI) pada Senin (28/9/2026) tidak sekadar menjadi ruang berkumpul mahasiswa. Tempat tersebut berubah menjadi ruang intelektual ketika HPMT Komisariat INTI menggelar lapak baca dan Bedah Buku “Melawan Istana Negara” dengan menghadirkan langsung penulisnya, Yuno Ja’far.
Kegiatan tersebut diikuti oleh kader dan pengurus HPMT Komisariat INTI bersama mahasiswa Kampus INTI. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan, pandangan, serta gagasan yang disampaikan peserta.
Kehadiran penulis secara langsung membuat peserta tidak hanya membaca buku, tetapi juga dapat berinteraksi dan menggali lebih jauh gagasan yang melatarbelakangi lahirnya buku *“Melawan Istana Negara”.
Bagi HPMT Komisariat INTI, lapak baca tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan kembali tradisi literasi dan ruang diskusi di tengah kehidupan mahasiswa.
Ketua HPMT Komisariat INTI, Fadly Kuasa, menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang yang memungkinkan mahasiswa bertemu dengan gagasan dan membangun keberanian intelektual.
“Kami ingin kampus tidak hanya menjadi tempat mahasiswa datang untuk mengikuti perkuliahan, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca, berdiskusi, mempertanyakan keadaan, dan melahirkan gagasan. Literasi harus menjadi bagian dari gerakan mahasiswa karena dari membaca kita mengenal persoalan, dari diskusi kita menguji gagasan, dan dari gagasan kita belajar menentukan sikap,”* ujar Fadly Kuasa.
Menurutnya, kegiatan literasi tidak harus selalu berlangsung dalam ruang formal. Taman kampus pun dapat menjadi ruang bertumbuhnya gagasan ketika mahasiswa memiliki kemauan untuk membaca dan berdiskusi.
“Buku tidak akan banyak berarti jika hanya tersimpan di rak. Buku harus dibaca, didiskusikan, diperdebatkan secara sehat, lalu melahirkan perspektif baru. Karena itu, kami ingin lapak baca seperti ini menjadi ruang yang terbuka bagi mahasiswa untuk bertemu dengan berbagai gagasan,”katanya.
Fadly juga menyampaikan bahwa HPMT Komisariat INTI akan terus mendorong kegiatan yang dapat memperkuat budaya literasi dan tradisi intelektual mahasiswa.
“Gerakan mahasiswa bukan hanya tentang seberapa keras kita bersuara, tetapi juga seberapa kuat dasar pengetahuan yang kita miliki. Karena itu, membaca dan berdiskusi adalah bagian penting dari proses membangun mahasiswa yang sadar terhadap persoalan di sekitarnya,”* tambahnya.
Mahasiswa: Kampus Butuh Lebih Banyak Ruang Diskusi
Antusiasme juga datang dari mahasiswa Kampus INTI yang mengikuti kegiatan tersebut. Salah seorang mahasiswa menilai kegiatan lapak baca memberikan ruang yang berbeda dari aktivitas perkuliahan sehari-hari.
“Menurut saya, kegiatan seperti ini sangat positif karena mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar di dalam kelas. Di sini kami bisa membaca, bertanya, menyampaikan pendapat, dan mendengar perspektif dari orang lain. Ruang seperti ini penting karena mahasiswa membutuhkan tempat untuk bertukar pikiran dan gagasan secara terbuka,”* ungkapnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin dengan menghadirkan berbagai tema dan narasumber sehingga semakin banyak mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan literasi.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ruang publik kampus dapat menjadi tempat tumbuhnya budaya intelektual. Sebuah lapak baca sederhana mampu membuka percakapan yang lebih luas tentang buku, gagasan, dan realitas sosial.
Bagi HPMT Komisariat INTI, literasi bukan sekadar aktivitas membaca. Literasi adalah proses untuk *memahami, mempertanyakan, berdiskusi, dan membangun kesadaran.
Karena itu, Bedah Buku “Melawan Istana Negara” menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia menjadi upaya menghadirkan ruang tempat mahasiswa dapat bertemu dengan gagasan tanpa sekat.
Sebab mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bertanya. Tidak hanya ruang untuk mendengar, tetapi ruang untuk berbicara. Dan tidak hanya ruang untuk menerima gagasan, tetapi ruang untuk menguji dan melahirkan gagasan baru.













