Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Ekonomi & Bisnis

Mahasiswi Morowali Dorong Transparansi dan Prioritas Tenaga Kerja Lokal

×

Mahasiswi Morowali Dorong Transparansi dan Prioritas Tenaga Kerja Lokal

Sebarkan artikel ini
Marsha Nur Ainiyyah, Mahasiswa asal Sambalagi. Foto: Taufik.
Marsha Nur Ainiyyah, Mahasiswa asal Sambalagi. Foto: Taufik.

Palu, NewsOne.id – Aspirasi masyarakat Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, kini mendapat perhatian generasi muda melalui suara mahasiswi Morowali dorong transparansi.

Marsha Nur Ainiyyah, mahasiswi asal Desa Sambalagi, menyuarakan sejumlah kebutuhan masyarakat.

banner 325x300

Ia kini menempuh pendidikan di Palu, Sulawesi Tengah. Namun, jarak tidak mengurangi kepeduliannya terhadap kondisi kampung halaman.

Marsha menyoroti tiga isu utama yang menyentuh kepentingan masyarakat Sambalagi.

Isu tersebut mencakup transparansi, keterlibatan masyarakat, dan kesempatan kerja lokal.

Menurutnya, ketiga persoalan itu berkaitan langsung dengan masa depan masyarakat setempat.

Mahasiswi Morowali Dorong Transparasi: Hak Masyarakat Mendapat Informasi

Marsha menilai masyarakat memiliki hak untuk memperoleh informasi secara terbuka. Selain itu, masyarakat juga perlu terlibat dalam persoalan yang menyangkut kepentingan mereka.

“Walaupun saat ini saya sedang berada di Palu untuk menempuh pendidikan, saya tetap bagian dari masyarakat Sambalagi. Jarak tidak membuat saya berhenti peduli terhadap apa yang terjadi di kampung halaman saya,” ujar Marsha Nur Ainiyyah, Rabu (23/9/2026).

Ia mengatakan kepedulian tersebut muncul dari tanggung jawab moral sebagai putri daerah.

Karena itu, mahasiswi Morowali dorong transparansi melalui penyampaian aspirasi secara terbuka.

“Saya menyuarakan ini bukan untuk mencari keributan dan bukan untuk menyudutkan pihak tertentu. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa masyarakat Sambalagi punya hak untuk didengar, dilibatkan, dan mendapatkan penjelasan yang transparan mengenai hal-hal yang menyangkut kehidupan mereka,” katanya.

Marsha juga mengingatkan pentingnya menjaga kepentingan masyarakat dalam setiap proses. Menurutnya, penggunaan nama masyarakat harus mengikuti kepentingan warga.

“Nama masyarakat jangan sampai digunakan untuk kepentingan segelintir orang. Kalau memang membawa nama rakyat, maka kepentingannya harus benar-benar kembali kepada rakyat dan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka,” tegasnya.

Kesempatan Kerja bagi Generasi Muda

Selain transparansi, Marsha menyoroti kesempatan kerja bagi masyarakat lokal. Ia berharap aktivitas industri dapat membuka ruang ekonomi bagi warga Sambalagi.

Terlebih, generasi muda memiliki kemampuan dan semangat untuk berkembang.

“Anak-anak muda Sambalagi juga punya kemampuan, punya semangat, dan punya cita-cita. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Kalau keterampilan masih kurang, berikan pelatihan. Kalau ada kesempatan kerja, berikan ruang kepada tenaga kerja lokal,” ungkapnya.

Menurut Marsha, peningkatan keterampilan dapat menjadi salah satu solusi. Ia secara khusus mendorong pelaksanaan Vocational Training Multi-Skill bagi masyarakat.

Program tersebut, menurut dia, perlu menghasilkan keterampilan yang sesuai kebutuhan dunia kerja.

“Masyarakat tidak hanya membutuhkan janji. Yang dibutuhkan adalah program yang nyata. Berikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk belajar, mendapatkan keterampilan, kemudian bekerja dan berkembang di daerahnya sendiri,” ujarnya.

Dengan demikian, mahasiswi Morowali dorong transparansi sekaligus meminta penguatan kapasitas tenaga kerja lokal.

Mahasiswi Morowali Dorong Transparansi: Masyarakat Perlu Menjadi Mitra

Marsha menilai keterlibatan masyarakat tidak cukup berhenti pada persoalan pekerjaan.

Masyarakat juga membutuhkan peluang untuk masuk dalam kemitraan dan kegiatan ekonomi.

“Kami ingin masyarakat Sambalagi bukan hanya menjadi penerima dampak, tetapi juga diberikan ruang untuk menjadi mitra. Masyarakat harus dilibatkan dalam proses dan diberikan kesempatan untuk berkembang,” katanya.

Pandangan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian dari proses pembangunan.

Pada saat yang sama, keterlibatan warga dapat memperkuat komunikasi antara masyarakat dan pihak terkait.

Bagi Marsha, pembangunan daerah membutuhkan ruang dialog yang terbuka. Masyarakat perlu memperoleh informasi sekaligus kesempatan menyampaikan kepentingannya.

Pendidikan dan Kepedulian Anak Muda

Pendidikan di Palu turut memperluas perspektif Marsha mengenai persoalan daerah.

Namun, proses tersebut tidak membuatnya meninggalkan perhatian terhadap Sambalagi.

“Saya sedang belajar di Palu, tetapi hati dan perhatian saya tetap untuk Sambalagi. Saya percaya anak muda tidak boleh hanya memikirkan masa depannya sendiri. Kita juga harus peduli dengan kampung halaman dan masyarakat tempat kita berasal,” tuturnya.

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk ikut memperhatikan perkembangan daerah. Menurutnya, pendidikan juga perlu mendorong keberanian menyampaikan aspirasi secara konstruktif.

Marsha berharap masyarakat mendapat respons melalui komunikasi terbuka dan tindakan nyata.

“Kami tidak meminta belas kasihan. Kami meminta transparansi, kesempatan, keterlibatan, dan penghormatan terhadap masyarakat. Kalau masyarakat sudah menyampaikan aspirasi, maka jangan berhenti pada janji. Berikan jawaban dan buktikan melalui tindakan,” pungkas Marsha Nur Ainiyyah.

Aspirasi tersebut menempatkan transparansi dan kesempatan kerja sebagai dua kebutuhan penting masyarakat.

Selain itu, keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih terbuka.

Bagi generasi muda Sambalagi, mahasiswi Morowali dorong transparansi menjadi bagian dari kepedulian terhadap masa depan daerah.

Baca juga: PT Alaska Serahkan Kompensasi ke Empat Desa Lingkar Tambang Morowali

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *