Morowali, NewsOne.id — Warga Matarape siapkan aksi demonstrasi pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Aliansi Masyarakat Matarape mengoordinasikan rencana aksi tersebut di Desa Matarape, Morowali. Mereka memilih area jalan hauling PT ASKON sebagai lokasi penyampaian aspirasi.
Aliansi tersebut ingin menyampaikan sejumlah keluhan terkait aktivitas kendaraan dan penggunaan jalan hauling.
Menurut pihak Aliansi, aktivitas tersebut menimbulkan debu yang mencapai kawasan permukiman.
Selain itu, Aliansi mengklaim debu turut berdampak pada tanam tumbuh dan lahan masyarakat.
Masyarakat juga mempertanyakan langkah konkret perusahaan dalam merespons persoalan tersebut.
Warga Matarape Siapkan Aksi, Dorong Dialog dengan Perusahaan
Rencana aksi muncul setelah warga menyampaikan sejumlah keluhan terkait aktivitas hauling.
Aliansi berharap demonstrasi membuka ruang komunikasi antara masyarakat dan pihak perusahaan.
Mereka juga mendorong penyelesaian persoalan melalui dialog yang melibatkan pihak terkait.
Dengan demikian, aksi tidak hanya menjadi sarana penyampaian keberatan warga. Forum tersebut juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kepentingan masyarakat dan perusahaan.
Terlebih, aktivitas pertambangan dapat menimbulkan dampak langsung bagi masyarakat sekitar.
Karena itu, komunikasi terbuka menjadi penting untuk mencegah persoalan berkembang menjadi konflik.
Warga Matarape Siapkan Aksi: Debu Menjadi Salah Satu Sorotan
Keluhan mengenai debu menjadi salah satu perhatian utama masyarakat Matarape. Warga menyebut aktivitas kendaraan hauling dapat menghasilkan debu di sepanjang jalur tersebut.
Mereka kemudian mengaitkan kondisi itu dengan lingkungan permukiman dan lahan masyarakat.
Namun, klaim tersebut masih memerlukan pemeriksaan berdasarkan kondisi lapangan dan data yang terukur.
Pihak perusahaan juga perlu memberikan penjelasan mengenai pengelolaan dampak aktivitas hauling.
Langkah itu penting agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi lingkungan sekitar.
Selain itu, pemerintah dan instansi berwenang dapat melakukan verifikasi secara objektif.
Hasil verifikasi dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah penyelesaian yang tepat.
Aksi Dikoordinasikan Aliansi Masyarakat Matarape
Dalam rencana aksi tersebut, Muhlis bertindak sebagai Koordinator Lapangan. Sementara itu, Rinto bertugas sebagai Wakil Koordinator Lapangan.
Keduanya mengoordinasikan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Matarape.
Karena itu, warga Matarape siapkan aksi sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara terbuka.
Masyarakat berharap penyampaian aspirasi tersebut mendapat perhatian dari pihak perusahaan dan pemerintah.
Pemerintah daerah juga memiliki ruang untuk memfasilitasi komunikasi antara warga dan perusahaan.
Dengan pendekatan tersebut, penyelesaian dapat mengutamakan fakta lapangan dan kepentingan masyarakat.
Pada akhirnya, dialog berbasis data dapat membantu mencegah kesalahpahaman serta menjaga situasi tetap kondusif.













